Tuesday, January 13, 2009

Mengenang Mamak Tercinta...

Ketika kecil, aku selalu ingin seperti mamak. Ingin kelihatan seperti mamak, bahkan cita cita pun ingin menjadi seperti mamak. Mamak dulu sekolah di IAIN Jakarta. Maka setiap ditanya cita citaku, aku selalu dengan lantang menjawab, sekolah IAIN. Bapak kadang suka menggangguku, ngapain sekolah IAIN, masuk ekonomi aja. Wah...aku bisa menjerit marah, karena aku maunya masuk IAIN. Dan itulah yang terbaik. Kata mamak, ketika itu mamak sempat ditawarkan menjadi dosen di IAIN Arraniry oleh rektor IAIN saat itu. kalau gak salah pak Ibrahim Husen. Tapi mamak menolak dengan alasan pekerjaan dirumah dan anak anak yang masih kecil kecil. Padahal, kata mamak waktu itu, seandainya mamak terima, sekarang sudah menjadi dosen senior.

Bapak juga suka menggangguku karena aku suka kelihatan seperti mamak. Bapak bilang kalau kakiku seperti kaki bapak. Aku marah, aku bilang kakiku seperti kaki mamak. jempolnya miring sedikit kearah jari jari kaki yang lain. Ketika aku sudah besar, kaki mamak bermasalah dengan tulang dibawah jempolnya. Kata mamak suka sakit, dan ternyata tumbuh sehingga agak membesar. Bapak suka menggangguku, tuh kan, suka kalipun punya kaki seperti kaki mamak?
Tetapi ketika aku kecil, aku selalu ingin sama dengan mamak. Setiap bapak tanya, coba liat kakinya mirip kaki siapa? aku langsung memiringkan jempol kakiku....

Sunday, January 4, 2009

Kepergian Mamak Tercinta...

Kemarin tepatnya, tanggal 3 Januari, 70 tahun yang lalu, merupakan hari kelahiran mamakku tercinta. Namun Mamak telah meninggalkan kami semua, dipanggil Allah SWT 2 minggu yang lalu, sebelum kami sempat merayakan hari lahirnya yang ke tujuh puluh.

Masih jelas di ingatanku ketika hari Sabtu (21 Desember 2008) tengah malam sekitar jam 12 (waktu Washington DC), hari minggu siang sekitar jam 12 (waktu Jakarta, Indonesia), aku mendapat telpon dari Bapak. Aku punya firasat bahwa deringan telpon itu dari bapak karena semenit sebelum itu aku sms kak mimi menanyakan keadaan mamak tercinta. Hal yang memang sering aku lakukan, hampir setiap hari.

Lututku langsung lemas dan aku duduk didepan pintu tanpa berkata apa apa dengan telpon masih dikuping. Jantungku berdegup kencang. Aku langsung terisak isak menangis mendengar bapak berkata dengan tenang dalam bahasa Aceh, "Eva tenang tenang mantong beuh neuk...mamak ka geu tinggai tanyo mandum muno poh 12."
Ternyata masih sulit bagiku untuk menulis cerita ini. mataku kembali berkaca kaca sambil menulis. Tapi rasa rinduku terhadap mamak tercinta saat ini melebihi rasa sedihku sehingga aku ingin meneruskan menulis tentang mamak tercinta. Mungkin aku akan break sebentar...nanti aku sambung lagi...

Selesai break....
Malam itu perasaanku berkecamuk tak menentu. Setiap kejadian disaat saat terakhir aku masih mendengar suara mamak ditelpon kembali terngiang ngiang dikuping ku. Suara mamak yang bergetar dan sulit aku mengerti, namun aku tidak ingin mamak terus mengulangi kata katanya karena aku takut mamak capek. Kembali saat aku panik itu terulang kembali. Dimana aku telpon kak Ina menanyakan keadaan mamak karena aku tau bahwa kak Ina baru saja kerumah dan bertemu mamak tercinta. Aku telpon kak uci karena panik ketika mendengar mamak minta pulang ke Aceh, padahal setau aku mamak dalam kondisi yang lemah dan lebih baik supaya di jakarta dulu. Ketika hal ini aku tanyakan sama mamak tercinta, mamak menjawab kasian juga kak mimi terlalu lama meninggalkan kerjaannya yang banyak di Aceh....

Oh...berkecamuk pikiranku diantara suara telpon yang terus berdering malam itu. Namun sedikit sedikit perasaanku tenang. Aku mengambil air wudhuk dan sembahyang. Kemudian aku mengaji untuk mamak tercinta. Aku baca surat yasin berulang ulang sampai aku capek. Bang Is menawarkan untuk memindahkan Shahnaz kekamar kami supaya aku bisa tenang dengan memeluk Shahnaz. Namun aku larang. sepertinya aku perlu break lagi sebentar.....

Banyak sekali kenangan tentang mamak tercinta yang setiap hari terngiang di kepalaku seperti putaran film yang terus berputar.
Doaku pun terus aku panjatkan kepada Allah SWT agar dosa dosa mamak tercinta selama di dunia dimaafkan, supaya mamak tercinta ditempatkan di sisi-Nya di tempat yang mulia di dalam syurga-Nya.

Ada rasa bersalah di dalam diriku karena aku tidak bisa berada disisi mamak tercinta disaat saat terakhirnya. Ada rasa bersalah dalam diriku karena tidak pernah tercapai cita citaku untuk merawat mamak hingga hari akhirnya. Ada rasa bersalahku karena aku tidak bisa segera pulang ke Aceh begitu mendengar berita dari Bapak tentang kepergian mamak karena visaku yang masih tertahan di state departement. Ada rasa bersalah di dadaku ketika aku tidak berbicara dengan mamak di telpon ketika mamak di rumah sakit karena aku takut mamak kecapekan....I need another break....

Namun sebagai orang yang beriman, rasa bersalah itu aku enyahkan. Rasa sedih itu aku tutupi dengan bacaan bacaan surat Yasin. Kenangan kenangan indah ku ukir didalam dadaku agar selalu dapat kukenang dengan senyum dan tawa. Setiap aku teringat mamak tercinta (masih sullit bagiku untuk percaya bahwa mamak tercinta telah tiada...), dadaku terasa perih, segera aku menarik napas panjang sambil mengucap didalam hati, Allahumaghfirlaha warhamha wa'afihi wa'fuanha....

Dua hari yang lalu rasa rindu ku terhadap mamak tercinta seperti tak terbendung. I need break....

Biasanya jika aku rindu, aku segera menelpon dan berbicara panjang lebar dengan mamak tercinta. Air mataku kembali berlinang ketika sadar mamak tercinta sudah tidak ada....siapa yang akan aku telpon kalau aku telpon ke aceh jika rindu? need another break....

Dua hari berturut turut aku bermimpi bertemu mamak tercinta. Walaupun tidak ada kontak langsung, tetapi aku telah mendengar suara mamak dan melihat senyum dan tawanya. Rasa rinduku sedikit terobati.

Mamak adalah seorang wanita yang sangat sederhana dan sabar, seorang isteri yang sangat setia dan sabar, seorang mamak yang penuh perhatian dan sabar. Hatinya selalu mampu menyejukkan perasaan orang. Aku ingin mendidik anak anak ku seperti mamak telah mendidik kami dahulu. Menjadi orang yang selalu rendah hati, tidak suka iri dan dengki, sederhana, tidak suka membicarakan orang lain alias gosip, setia, dan banyak hal hal teladan yang patut untuk dicontoh dan kuteruskan kepada anak anakku.

Disini aku ingin mengucapkan terima kasih juga yang sebesar besarnya kepada teman baikku Epie....yang telah datang dari Chicago untuk menghiburku. I need break....
Walaupun aku melarang epie untuk datang (thanks for not listening pie...)tapi epie datang juga. Kedatangan Epie sangat menghiburku. Ditambah dengan kedatangan adik adik Aceh (Eli, Indri dan Melvi) yang ceria dan lucu lucu dari texas dan San fransisco benar benar membuat hari hari pertama terlewati dengan lebih mudah. Kami bahkan sempat keluar minum kopi (setelah dipaksa sedikit oleh bang is. katanya aku perlu break keluar rumah) dan mengambil beberapa pose foto di dc dengan pengarah gaya melvi yang sangat kocak. Semoga Allah SWT membalas dengan pahala yang berlipat ganda.

Aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada dektan dan bang Asril yang telah datang membawa tahu goreng isi special buatan dektan dan beberapa hari kemudian membawa bolu pandan yang istimewa. Juga atas bantuan bang Asril mengangkat barang barang di basement untuk disiapkan sebagai tempat berdoa. Semoga Allah SWT membalas dengan pahala yang berlipat ganda.

Terima kasih juga kepada teman temanku di Aceh yang telah dengan setia mengirimkan kabar. Disaat saat seperti ini, jauh dari kampung dan saudara, kabar berita dari kampung sangat aku rindukan. Rini, Lidar dan teteh Nurul yang telah setia mengabari dan menghiburku dengan kabar dan massagenya. Semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.

Terima kasih juga kepada semua teman teman yang telah penuh perhatian mengirimkan doa untuk mamak tercinta, semoga Allah akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.

Terima kasih juga kepada kak Suraiya dan bang Izwandi yang datang dari New York. Bang Najib dan Kak Nas dan Kipli dari Boston. Mereka telah datang menghiburku dan memberi nasehat nasehat yang memang sangat aku butuhkan saat itu. Kak suraiya dan Kak nas telah memasak dan ikut membersihkan rumah. bang izwandi ikut mengepel seluruh rumah, dan bang Najib membersihkan dinding dan debu. Semua ikut sibuk mempersiapkan tempat untuk takziah pada hari kamis. Semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.

Terima Kasih kepada teman teman yang telah datang takziah dan mengirimkan doa untuk mamak tercinta. Dimana ketika itu adalah libur panjang tetapi telah menyempatkan untuk mampir kerumah kami. Bahkan telah mengundurkan jadwal berliburnya sehari. Semoga Allah SWT akan membalas dengan pahala yang berlipat ganda.

Juga terima kasih buat Icut dan Jali yang telah datang dari Philadelphia. Kedatangannya (dan timphannya) sangat menghibur kami. Juga bang Mahfud dan kak Ida dari Harrisburg. Keluarga dari Baltimore, yang telah datang dan menghibur hati kami. Semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.

Dengan hati berat dan sedih, namun sebagai orang yang beriman, aku terus berdoa kepada Allah SWT.
"Allah maha besar. Ya Allah, inilah hamba-MU, Mariana Syamsuddin binti Zakaria, mamak kami yang tercinta. Dia telah datang menemui-Mu, Engkaulah yang paling baik untuk ditemui. Ya Allah, kami semua hanya mengenal kebaikan dari dirinya, walaupun Engkau lebih tahu tentang dirinya daripada kami. Ya Allah, jika mamak orang yang baik, tambahkanlah kebaikannya, jika mamak berbuat dosa, ampunilah mamak, maafkanlah mamak. Ya Allah, tempatkan mamak disisiMu, ditempat paling tinggi dan lindungilah keluarga yang ditinggalkannya. Sayangilah mamak kami dengan rahmat-Mu. Wahai yang paling pengasih dari segala yang mengasihi.

Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu. Maka berilah ampunan kepada orang orang bertaubat mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala nyala. Ya Tuhan kami, masukkan mereka kedalam surga yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang orang saleh diantara bapak bapak mereka, isteri isteri mereka dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."